[Review Novel] Senja Jatuh di Pajajaran: Kunanti di Gerbang Pakuan

Bismillahirrahmanirrahim

Senja jatuh di pajajaran

Judul: Senja Jatuh di Pajajaran: Kunanti di Gerbang Pakuan
Penulis: Aan Merdeka Permana
Tahun Terbit: 2009
Penerbit: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Jumlah Halaman: 504 Halaman
Nomor ISBN: 978-602-8535-08-3

Novel faksi--fakta tapi fiksi pertama yang saya baca sejauh ini. Belakangan ini saya sedang tidak tertarik dengan bacaan fiksi, novel terakhir yang saya baca adalah good wives, di bulan Maret yang lalu, setelah itu saya lebih banyak membaca buku pengembangan diri. Baru kali ini saya kembali melirik novel, itupun tanpa direncanakan sebab saat berada di Perpustakaan Kabupaten Mamasa dua pekan lalu sebenarnya saya mau mengambil buku pengembangan diri lainnya, tapi mata saya justru tertuju pada novel ini, heheh. Judulnya menarik--berhubung saya penyuka sejarah.

Sampai dirumah saya baru memperhatikan bahwa ternyata novel ini adalah novel trilogi Pajajaran, tadinya saya sempat merasa galau sebab saya belum pernah membaca dua novel lainnya dan takutnya saya tidak mengerti dengan jalan cerita novel ini, ternyata kegalauan saya tidak terjadi sebab novel ini adalah kisah yang berbeda dengan jalan cerita yang utuh sehingga tidak perlu khawatir karena kita belum membaca dua novel lainnya.

BLURP

senja jatuh di pajajaran

Tanggul yang disusun dari tumpukan balok kayu jati ini meledak dan hancur berkeping-keping. Tanggul itu bobol dan serentak menciptakan air bah amat deras. Suara air membahana menuju hilir. Air bah bergelombang besar tanpa ampun menerpa barisan perahu yang diisi hampir sepuluh orang prajurit musuh tidap perahunya. Banyak perahu terlontar ke udara untuk kemudian jatuh tenggelam atau terbawa arus deras. Suara jeritan di sana sini hanya terdengar hilang timbul untuk kemudian berhenti sama sekali. Yang terdengar kemudian hanyalah suatu gemuruh air tiada hentinya.

Semua orang menatap kejadian dashyat itu dengan terpana. Mata melotot tak berkedip dan mulut ternganga lebar. Suara desiran angin dan burung yang ramai berterbangan dari hutan sepanjang alur sungai karena kekuatan air bah menambah kengerian suasana.

Dibuat Bingung dengan Sosok Karakter Utama

Novel ini di buka kisah kedatangan Pragola ke Pakuan (Ibu kota kerajaan Pajajaran), saya pikir bahwa Pragola inilah sang tokoh utama sebab di beberapa chapter setelahnya lebih berfokus pada kisah dan jalan pikiran Pragola yang dilanda dilema oleh tugasnya dalam memata-matai kerajaan Pajajaran.

Tapi di pertengahan novel saya dibuat bingung, karena secara halus penulis novel seakan mengalihkan kisah utamanya ke tokoh Banyak Angga--Sang Pangeran Pajajaran yang tadinya harus di bunuh oleh Pragola, kemudian kisah Pragola perlahan-lahan berkurang seakan-akan dia hanya tokoh pelengkap dalam novel ini. Bahkan di puncak cerita Pragola yang tadinya sangat ditonjolkan di awal kisah hanya muncul sekelabat dan sama-sekali tidak penting--menurut pandangan saya. 

Kerajaan Pajajaran: Fakta tapi Fiksi dalam Kisah di Novel Ini

Seperti yang saya tulis di atas, bahwa ini adalah novel faksi pertama yang saya baca--ehh tapi sebelumnya saya pernah membaca novel "Hafalan Sholat Delisa", tapi saya tidak tahu kalau itu juga dimasukkan kedalam kategori faksi--Maafkan saya yang tidak punya banyak referensi mengenai jenis-jenis novel, hehehe. 

Kerajaan Pajajaran sendiri adalah kerajaan bercorak hindu yang berada di Jawa Barat, dalam novel ini ibu kota kerajaannya ada di Kota Pakuan--yang sekarang bernama Bogor. Latar waktu dalam novel ini berkisar pada tahun 1521 - 1567 Masehi, dengan dua raja yaitu Ratu Sakti dan Rati Nilakendra. Sifat dan penokohan kedua raja ini sangat sesuai dengan karakter asli dua raja tersebut yang tertulis dalam sejarah. Lalu tokoh selain kedua raja tersebut semuanya adalah tokoh-tokoh fiksi yang dibuat untuk mewarnai cerita.

Perjuangan Pajajaran Mempertahankan Keeksisannya Sebagai Sebuah Kerajaan

Secara garis besar novel ini menceritakan tentang perjuangan Banyak Angga dan ayahnya Pangeran Yogascitra dalam mempertahankan Kerajaan Pajajaran dari orang-orang yang ingin menhancurkan dan menjatuhkan kerajaan Pajajaran--orang-orang ini adalah bangsawan Pajajaran sendiri yang memiliki kepentingan untuk menguasai Pajajaran dengan berdalih sebagai mata-mata dari Kerajaan Cirebon dan Banten.

Novel ini kalau di filimkan atau dibuat sinetron mungkin akan disebut sebagai film atau sinetron kolosal, karena memang banyak diwarnai oleh adegan-adegan pertempuran yang menggunakan banyak ilmu dalam--seperti berlari kencang, berlari di atas air, bertempur dengan tenaga dalam, dll. Heran juga ternyata saya menikmati membaca novel jenis seperti ini, heheheh. Tapi pengalaman baru untuk saya karena saat membaca novel ini--terutama adegan pertempurannya, adegan dalam sinteron kolosal yang pernah saya tonton itulah yang muncul dalam kepala saya, hehehe.

Saat membaca novel ini saya jadi kepikiran, apakah memang di zaman itu kekuatan ilmu dalam memang eksis? Apakah memang ada manusia-manusia super yang mampu bertanrung dengan kekuatan luar biasa seperti super hero? dan banyak pertanyaan lain yang berkelabat di kepala saya.

Penutup

Untuk yang suka membaca novel berlatar sejarah kerajaan Indonesia, mungkin novel ini bisa menjadi rujukan, tapi untuk yang tidak suka membaca adegan pertarungan, mungkin kalian tidak akan suka dengan novel ini, karena 80% isi novel ini adalah adegan pertarungan, hehehe. Mungkin itu yang bisa saya review mengenai novel ini, yang penasaran mungkin bisa membacanya. Salam literasi!

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Komentar kalian sangat berarti untuk saya dan blog ini 💕