[Review Novel] Good Wives: Istri-istri yang Baik

Bismillahirrahmanirrahim

Novel Good Wives

Judul: Good Wives: Istri- istri yang Baik
Penulis: Louisa May Alcott
Tahun Terbit: 2014 (Novel Aslinya sendiri di terbitkan pada abad ke 19)
Penerbit: Gramedia
Jumlah Halaman: 413 Halaman
Nomor ISBN: 9786020310350

Akhirnya saya bisa menuntaskan buku ini setelah lebih dari dua bulan dalam siklus panjang--meminjam, mengantri, dikembalikan secara terpaksa, dan mengantri untuk peminjaman kembali, hehehe. Jadi awal saya meminjam buku ini di bulan Januari kemarin, tapi saat itu buku ini tidak langsung masuk ke dalam rak buku saya di ipusnas karena saya harus mengantri dengan para pembaca lainnya, entah di hari keberapa akhirnya notif untuk peminjaman disetujui, sayangnya novel ini tidak bisa saya baca hingga waktu peminjaman selesai, karena saya membacanya sambil membaca buku yang lain, jadilah buku ini dikembalikan secara terpaksa.

Dan kemudian siklus peminjaman-mengantri-dikembalikan ini terus terulang hingga beberapa hari yang lalu, hingga akhirnya buku ini dapat saya selesaikan kemarin, fiuhhh perjalanan panjang untuk bertemu dengan empat saudara March.

Novel ini adalah novel kedua dari Novel Little Women yang juga pernah saya review di sini. Sebenarnya cerita pada novel Good Wives ini pada novel aslinya pada abad 19 yang lalu merupakan satu rangkaian novel yaitu novel Little Women, yang pada saat diterjemahkan diputuskan untuk membaginya menjadi dua bagian novel yaitu Little Women dan Good Wives.

Awal saya jatuh cinta dengan kisah March bersaudara ini karena saya terlebih dahulu menonton film dengan judul yang sama Little Women, jadilah saya tergila-gila dengan tokoh di dalam kisah ini, dan memuttuskan untuk mencari dan membaca novel yang menjadi insprirasi dari film luar biasa tersebut. Dan saya tidak salah, novelnya menyajikan kisah yang jauh luar biasa.

Dalam novel sebelumnya--Little Women, kisah dari 4 bersaudara March berakhir pada kisah kebahagiaan Meg yang telah menemukan cintanya dan berencana membangun keluarga bahagia dengan tunangannya, John.

Resensi

Gadis-gadis March--Meg, Jo, Beth, dan Amy, kini telah dewasa. Ayah mereka Mr March telah pulang dengan selamat dari medan perang. Begitu pula John Brooke, kekasih Meg. Jo yang tomboy sedang belajar untuk menjadi lebih anggun. Beth semakin ramping dan pendiam, dan matanya yang indah selalu menyorotkan kebaikan. Sedangkan Amy, pada usia enam belas tahun memiliki pembawaan seperti wanita dewasa. Keempat gadis March dengan dampingan ibu mereka yang bijak akan menemukan cinta mereka masing-masing dan menyambut masa depan.

Kisah Meg si Kakak Pertama

Izinkan saya untuk mebahas masing-masing dari keluarga March ini. Dan saya memulainya dengan kisah dari si sulung Meg, karena kisahnya menjadi kisah penutup di novel sebelumnya--Little Women dan dengan kisahnya pula novel Good Wives ini dimulai.

Seperti yang sudah dispoiler di novel pertamanya, di novel ini Meg memulai babak baru dalam kehidupannya--menikah dengan kekasihnya dan menjadi Mrs. Brooke dengan rumah merpati tempatnya memadu bahagia.

Meg seperti yang bisa diramalkan akhirnya menjadi istri yang anggun yang sayangnya seperti kebanyakan rumah tangga lainnya, rumah tangga mereka pun tidak lepas dari masalah, misalnya kadangkala Meg masih mendambakan seorang suami yang kaya raya, sehingga ia bisa dengan bebas membeli semua barang-barang, dan gaun indah seperti layaknya wanita-wanita kaya, yang akhirnya membuat suaminya merasa sangat sedih, tetapi kemudian hal ini terselesaikan dengan baik. Ada juga masa dimana kesalahpahaman antara Meg dan suaminya menjadi satu masalah yang harus segera diselesaikan dengan sama-sama saling mengoreksi diri dan memafkan.

Hingga akhirnya Meg dan John dianugrahi sepasang anak kembar Demi dan Daisy yang lucu dan menyita waktu dan tenaga Meg, sayangnya ia merasa bahwa anak itu adalah tanggung jawabnya seorang diri sehingga tidak membiarkan suaminya ambil bagian dalam perawatan dan pendidikan si kembar--ini adalah masalah yang kemudian membuat suaminya menjauh dan membuat hati Meg berduka karena merasa ditinggalkan oleh suaminya.

Seperti biasa sang Marmee--ibu dari March bersaudara selalu datang dan memberikan nasehat terbaik yang begitu bijak ketika anak-anaknya membutuhkannya, termasuk ketika masalah datang dalam rumah tangga Meg. Berkat nasehat dari Marmee lah akhirnya Meg dapat melihat kesalahan yang ia lakukan dan bertekad memperbaikinya dengan lebih memperhatikan suaminya dan membuat John ikut andil dalam perawatan dan pendidikan si kembar.

Kisah Beth yang Menyayat Hati

Ahh ... menuliskan kisah Beth saat ini masih membuat air mata saya menetes, seperti dalam filmnya yang juga berhasil membuat saya menangis sesuggukan, dalam novel ini kisah Beth-lah yang berhasil membuat saya menangis seperti anak kecil.

Beth yang baik hati yang dalam novel pertama sudah dijelaskan bahwa ia harus menderita sebuah penyakit, di novel kedua ini penyakit Beth semakin parah, walau pada awalnya keluarga March tidak menyadari dan bahkan beranggapan bahwa Beth telah membaik. Tetapi kemudian ada masa dimana Beth selalu menangis dalam tidurnya, hingga pada akhirnya ia menceritakan semua deritanya kepada sang Kakak yang selalu ada didekatnya--Jo. 

Beth kesayangan semua orang yang mempunyai hati yang lembut dan seperti malaikat, bahkan di dalam sakitnya ia masih bisa memberikan kebahagiaan bagi keluarganya, bagi anak-anak yang hilir mudik di depan rumahnya, dan akhirnya di pagi musim semi itu ia menghembuskan nafas terakhirnya, Ahh ... Beth membuat saya terus meneteskan air mata. Hikss

Kisah Amy Kecil yang Anggun

Amy seperti yang telah digambarkan di novel pertama, ia adalah anak bungsu dari keluarga March yang mempunyai jiwa seni yang kuat, jiwa seni ini juga di tunjukkan dengan kemampuannya membawa diri menjadi wanita yang anggun. Lalu dengan kebaikan hatinya berhasil menggugah bibi Carol untuk membawanya dalam perjalanan menjelajah benua eropa bersama Mr. Carol dan Flo anak perempuannya. Jadilah disepanjang novel kedua ini kisah Amy didominasi dengan kisah perjalanannya di berbagai negara di Eropa. Juga kisah pertemuannya kembali dengan Laurie, yang nanti akan saya ceritakan lebih lengkap.

Kisah Jo yang Bekerja Keras

Jo selalu menjadi gadis yang pekerja keras, dengan wataknya yang apa adanya membuat dia selalu berpikir bahwa dia tidak akan membutuhkan seorang lelaki dalam hidupnya. Ada satu kejadian yang akhirnya membuat ia sadar akan pentingnya menjaga lidah sehingga akhirnya impiannya untuk berlayar ke Eropa--yang tadinya dia menjadi kandidat pertama Bibi Carol, akhirnya harus ia lepaskan karena mulutnya yang tidak bisa ia kendalilan, pada akhirnya seperti yang saya tulis diatas, atas kebaikan hatinya, Amylah yang mendapatkan kesempatan tersebut.

Ia lalu merantau ke Now York untuk menjauhi Laurie--nanti juga akan saya tuliskan penyebabnya. Lalu di New York ia bertemu sahabat barunya Prof.Bhaer yang kemudian membuat ia kagum dengan semangat dan kebaikan hatinya. Kemudian ia harus kembali ke rumahnya karena kesehatan Beth yang menurun, dan sepanjang waktu itu selalu ada di dekat Bethnya tersayang hingga akhirnya Beth meninggalkan ia untuk selamanya.

Kematian Beth adalah hal yang menyakitkan untuk Jo, ia menjadi kesepian, ia selalu menangisi kesendiriannya, hingga kemudian hatinya kembali cerah ketika Amy dan Laurie akhirnya pulang dari Eropa dan membawa kembali kebahagiaannya. Lalu kejutan lain juga datang kekehidupannya.

Jo dan Laurie

Kisah romantis kedua setelah kisah Meg dan John di novel pertama datang dari kisah Jo dan Laurie--kalau kisah ini bisa dibilang romantis atau mungkin dramatis. Seperti yang bisa ditebak Laurie sudah sejak lama jatuh cinta kepada Jo, mungkin cinta ini dimulai sejak pertemuan pertama mereka dulu, yang kisahnya diceritakan di novel pertama.

Laurie tidak pernah mencintai perempuan lain selain Jo, kecintaannya ini sudah sering ia tunjukkan, sayang Jo selalu menepis hal tersebut, hingga ada suatu moment yang membuat Jo merasa bahwa Beth mencintai Laurie dan untuk hal tersebut akhirnya Jo kemudian membulatkan tekad untuk merantau ke New York--dia berniat membuat Laurie melupakannya dengan mendekatkannya dengan Beth.

Sayangnya cinta Laurie terus bertumbuh walaupun Jo melarikan diri ke New York, ia membuktikan diri menjadi lelaki yang baik dengan menjadi mahasiswa terbaik di hari kelulusannya. Saat selesai merayakan kelulusannya tersebutlah ia melamar Jo, dan bisa ditebak Jo dengan perasaan dingin menolak perasaan Laurie. Laurie momohon dan menangis di hadapan Jo, meminta Jo untuk berusaha mencintainya, tetapi Jo malah menolaknya dan ia bahkan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak pernah berfikir untuk pernikahan.

Karena perasaan yang terluka ini akhirnya Mr. Laurence--kakek Laurie menawarkan dirinya untuk menemani Laurie menjelajah agar ia bisa melupakan Jo. Mereka berdua lalu menjelajahi Eropa bersama. Setelah penolakan itu Laurie menjadi pria pemalas yang hanya bisa menghamburkan uang kakeknya.

Amy dan Laurie

Dalam perjalanan pelampiasan rasa sedih akibat penolakan tersebut, Laurie kemudian bertemu dengan Amy di Paris. Amy yang setelah sekian tahun tidak bertemu dengan Laurie karena perjalanan bersama bibi Carol telah tumbuh menjadi wanita yang anggun, keanggunanannya memikat hati Laurie--walau pada awalnya hanyalah sebatas kekakaguman sebagai seorang kakak. 

Perubahan sikap Laurie yang kini menjadi pemuda yang sering bermalas-masalan dan menghamburkan uang membuat Amy merasa marah terhadap Laurie dan menyampaikan sikap ketiakhormatannya, hal ini menyinggung perasaaan Laurie dengan sangat dalam, lalu akhirnya Amy sadar bahwa perubahan sikap Laurie ini karena penolakan kakaknya Jo. Barulah ia merasa simpati terhadap Laurie.

Dan dengan semakin seringnya mereka berkomunikasi, semakin terjalin perasaan romantis diantara mereka berdua. Laurie dengan surat terakhirnya kepada Jo masih memohon cinta Jo, tetapi ditolak dengan dingin oleh Jo akhirnya membuka hatinya kepada Amy.

Saat surat berita kematian Beth sampai kepada Amy dan Laurie--di tempat yang berbeda. Amy sangat merindukan Laurie untuk datang menghiburnya dan kemudian Lauriepun datang dan disanalah cinta mereka bersemi, disana pulalah Laurie melamar Amy menjadi pendamping hidupnya. Akhirnya di Eropa pulalah mereka menikah.

Jo dan Prof Bhaer

Kepualangan Amy dan Laurie sebagai suami dan istri memberikan kebahagiaan sendiri bagi Jo. Lalu kejutan lain datang bersamaan dengan saat itu Prof Bhaer datang berkunjung ke rumahnya dan Prof Bhaer selalu berkunjung kesana selama hampir sebulan, pada awalnya dia hanya datang untuk mengunjungi Mr. March dan berdiskusi bersama, tetapi semua orang tahu bahwa kedatangan Prof Bhaer untuk mendapatkan cinta Jo.

Jo sejak kedatangan Prof Bhaer menjadi sering bersenandung dan semakin sering memperhatikan penampilannya. Dan dihari terakhir kedatangan Prof Bhaer itulah akhirnya mereka saling menyatakan perasaan dibawah payung tua Prof Bhaer.

Akhir Kisah Empat Bersadudara March

Diakhir kisah diceritakan bahwa mereka semua telah menjadi seorang istri dan seorang Ibu. Meg yang telah lebih dahulu menjadi istri dari Jhon Brooke dan ibu dari Demi dan Daisy, Amy yang menjadi istri dari Laurie Laurence dan menjadi ibu dari Beth kecil, Jo yang kini menjadi istri dari Prof Bhaer dan ibu dari Teddy dan Rob, serta Beth yang telah lebih dahulu mengambil bahagianya di Surga.

Kisah empat bersaudara March menjadi kisah yang sangat mengharukan, sekaligus penuh pesan untuk saya sendiri. Saya banyak mengambil hikmah dari kisah keluarga Meg dan Jhon untuk saat ini, dan berharap saya pun bisa menjadi istri-istri yang baik seperti Meg, Jo dan Amy.

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Komentar kalian sangat berarti untuk saya dan blog ini 💕