Tantrum dan Rasa Marah Pada Anak Serta Bagaimana Menghadapi Anak yang Sedang Tantrum

Bismillahirrahmanirrahim

Bagaimana Menghadapi Anak yang Sedang Tantrum

Saya adalah ibu dari dua orang anak, lebih tepatnya adalah ibu dari dua anak lekaki, yang tertua kami namai Al Fatih, pada awal bulan Mei yang lalu usianya tepat 6 tahun, sedangkan anak kedua kami Al Fayyad pada bulan Januari kemarin berusia 4 tahun. Kedua anak kami hanya terpaut usia 20 bulan--1 tahun 8 bulan.

Saya sempat mendapatkan sedikit tantangan dalam merawat dan membersamai mereka, sekedar informasi, selain sebagai ibu rumah tangga saya juga adalah ibu yang bekerja di ranah publik, dan karena tidak ada pengasuh yang bisa kami percayai di tanah rantau, akhirnya saya memutuskan untuk membawa kedua anak kami sambil bekerja. 

Dengan jarak usia yang tidak terlalu jauh, saat awal-awal merawat anak-anak saya merasa sedikit kesulita, terlebih saat menghadapi sikap anak-anak yang sedang tantrum, atau lebih mengarah ke rasa marah yang berlebihan. Tapi apakah tantrum itu sama dengan rasa marah?

Terkadang istilah "marah" dan "tantrum" sulit untuk dibedakan, apalagi untuk ibu-ibu muda seperti saya, yang pengetahuannya tentang dunia parenting masih sangat kecil, dan terkadang kedua istilah ini seringkali digunakan secara bergantian, tetapi yang menjadi pertanyaan untuk saya dan mungkin juga para orang tua diluar sana, "Apasih perbedaan antara marah dan tantrum?"

Perbedaaan Antara Marah dan Tantrum

Rasa Marah

Rasa marah adalah perasaan emosi yang normal dan alami yang secara alamiah akan dialami oleh semua manua baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Rasa marah adalah reaksi emosional yang muncul terhadap sesuatu yang tidak memuaskan dan tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginan dan harapan kita. 

Saat marah, kita--baik anak-anak maupun orang dewasa mungkin akan menunjukkan ekspresi wajah yang marah, sedikit meninggikan suara dan menunjukkan ketidakpuasan secara verbal. Namun, kemarahan pada umumnya dapat dikendalikan dan mereda dengan cepat, terutama jika anak telah memiliki keterampilan dalam pengelolaan emosi yang baik

Tantrum

Tantrum juga merupakan ledakan emosi yang kuat dan meluap, Tantrum biasanya terjadi apada anak-anak yang usianya lebih muda--sekitar usia 2-4 tahun. Tantrum umunya melibatkan perilaku yang meluap-luap, seperti dengan menunjukkan sikap menangis, berteriak, menggeliat, menjatuhkan diri ke lantai, memukul, atau melampiaskan kemarahan fisik. 

Tantrum biasanya terjadi ketika anak tidak dapat mengungkapkan keinginannya atau menghadapi batasan atau kekecewaan. Tatrum bisa berlangsung cukup lama dan sulit dekendalikan oleh anak. Ketika anak tantrum, anak akan kehilangan kendali atas emosinya dan sering kali sulit untuk diajak berbicara atau menghadapi logika. 

Cara Menghadapi Anak yang Tantrum

Menghadapi anak yang sedang tantrum bisa menjadi tantangan tersendiri bagi kita--para orang tua. Tetapi hal itu bukan berarti bahwa perilaku tantrum ini tidak bisa dihadapi, berikut beberapa langkah yng mungkin bisa kita terapkan saat menghadapi anak yang tantrum:

Tetap Tenang

Tetap tenang meskipun anak sedang tantrum--hal ini mungkin terdengar gampang, tapi percayalah bahwa inilah hal yang sangat sulit untuk dilakukan, hehehe. Tapi yah, jika kita sebagai orang tua tidak mampu untuk bersikap tenang saat menghadapi anak yang sedang tantrum, maka situasi yang akan kita hadapi akan makin memanas. Bicara dengan suara tenang dan lembut mungkin akan membuat anak akan merasa didengarkan

Berikan Ruang dan Pastikan Keselamatan Anak

Saat anak sedang tantrum, biarkan ia meluapkan segala emosinya. Dan jika diperlukan maka pindahkan anak ke tampat yang tenang agar tidak menganggu orang lain, pastikan juga bahwa anak berada dilingkungan yang aman dan tidak ada benda-benda yang dapat membahayakannyanya. Sebagai contoh saat menghadapi kuda anak saya yang sedang tantrum, saya biasanya akan membiarkan mereka menangis sampai mereka benar-benar meluapkan semua emosinya.

Memberikan Dukungan Secara Emosional

Meskipun anak sedang sangat menyebalkan karena tantrum, wkwkwk, dan walaupun kita sedang setangah mati untuk tetap bersikap tenang dan tidak terbawa emosi, tetapi tetap tunjukkan bawa kita sebagai orang tuanya selalu ada untuknya. Hal sederhana mungkin dengan mengatakan "Tidak apa-apa, Ummi mengerti kenapa kakak sedang kesal". Biasanya setelah reda kita bisa memberikan pelukan atau ciuman sayang untuk menunjukkan keberadaan kita disisinya.

Ajak Anak Berbicara Setelah Anak Tenang

Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah mengajak anak berbicara dari hati ke hati ketika anak sudah tenang. Cari bahasa yang sederhana dan dapat dimnegerti oleh anak, pancing dengan pertanyaan seperti "Kenapa tadi adek marah?" atau "Adek tadi kenapa sampai menangis?", lalu bicarakan dengan tenang dan cari cara yang baik untuk mengatasi kemarahan anak kita. 

Saat mengajak berbicara ini juga kita bisa tanyakan kembali komitmen kita atas kesepakatan yang telah kita buat bersama dengan anak, sebagai contoh, Adek--anak kedua kami sering kali tantrum ketika ia hendak mengambil mainan kakaknya tetapi kakaknya belum mengizinkan adeknya untuk mengambil mainannya, maka saat anak kedua kami sudah tenang maka saya akan menegaskan kembali kesepatan yang telah kami buat bersama "Perjanjiannya kan tidak boleh mengambil mainan orang lain tanpa izin yang punyanya, ia kan Adek?", maka biasanya sang adek akan mengangguk dan merenungi kesalahannya.

Penutup

Akan sangat menyebalkan memang menghadapi anak yang sedang tantrum, hehehe, tetapi tetaplah tenang dan berikan ruang kepada anak untuk melampiaskannya emosinya, tapi pastikan bawa anak-anak berada dalam lingkungan yang aman dan tidak menganggu orang lain. Setelah tantrum mereda, ajak nak untuk berbicara dan ajarkan cara untuk mengelola emosi dengan lebih baik. Jika tantrum terus terjadi maka ada baiknya untuk berkonsultasi dengan profesional atau psikolog anak untuk mendapatkan bantuan.

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Komentar kalian sangat berarti untuk saya dan blog ini 💕