[Review Buku] Menjadi Guru untuk Muridku

2 comments
Bismillahirrahmanirrahim

Menjadi Guru untuk Muridku
Judul: Menjadi Guru untuk Muridku
Penulis: St. Kartono
Tahun Terbit: 2011
Penerbit: PT. Kanisius
Jumlah Halaman: 272 Halaman
Nomor ISBN: 978-979-21-3018-8

Buku luar biasa yang isinya "daging" semua. Buku ini saya pinjam pada aplikasi ipusnas sekitar 3 pekan yang lalu, dan yah .. saya harus melewati sampai 3 siklus peminjaman karena bukunya tidak habis dibaca dalam sepekan, heheh. Bukunya cukup tebal dan di akhir bulan yang lalu saya teralihkan dengan membaca materi dari modul PembaTIK dari Kemendikbud yang sedang saya ikuti pendidikannya. Pada tulisan refleksi "Ingin jadi guru yang bagaimanakah saya?", saya menyebutkan betapa kalimat-kalimat dari cerita penulis di buku ini begitu memberikan saya tamparan dan inspirasi. 

BLURP

Buku ini berisi 70 tulisan sebagai refleksi atas pengelaman-pengalaman kecil penulis di kelas, yakni pengalaman membangun motivasi siswa, menanamkan nilai-nilai, dan mengolah inspirasi pembelajaran mutakhir dengan cara populer. Meskipun berupa bunga rampai atau antologi tulisan, ada benang merah yang menyambung setiap tulisan, seperti pemilihan bab di dalamnya: menjadi guru mesti membangun impian/visi, memiliki nilai dan keterampilan mendidik, dan perjumpaan dengan murid.

Menjadi Guru untuk Muridku

Seperti yang tertera pada blurp isi buku ini bahwa di dalamnya terdapat 70 tulisan yang dibagi kedalam 3 bab utama yaitu: membangun impian sebagai guru, menghidupi nilai, mengasah keterampilan mendidik, serta bab terakhir yaitu perjumpaan dengan murid. Setiap babnya terjalin dari beberapa kisah yang sangat insipartif dan memberikan teguran bagi guru maupun calon guru yang membaca tulisan penulis.

"Kita menjadi guru bukan untuk pemerintah, bukan untuk kementrian pendidikan, bukan untuk yayasan atau satuan pendidikan kita, tetapi kita menjadi guru hanya untuk murid-murid kita"
--St. Kartono--

Membangun Impian Sebagai Guru

Dalam bab pertama ini terdapat 19 tulisan yang membuat kita atau saya secara pribadi tersadar akan fungsi utama saya sebagai guru yaitu "Membangun Impian Anak-anak" dengan pertama-tama memberikan ke-optimisan pada diri kita bahwa kita mampu.

Dalam bab ini saya dibuat tersentuh dengan berbagai kisah dari penulis, mulai dari anak muridnya yang menjadi guru karena terinspirasi oleh penulis, dan bahwa kita sebagai guru adalah pahlawan bagi anak-anak didik kita. Juga ada berbagai kisah yang penulis ambil dari kisah-kisah inspiratif guru lainnya tentang begaimana sang guru begitu tersentuh saat anak didiknya datang untuk meminta tanda tangan sang guru untuk buku yang ia beli, dimana penulis buku itu adalah sang guru.

Di dalam bab ini penulis juga menceritakan bahwa ia tidak ingin menjadi "guru biasa", tapi ia ingin menjadi guru yang luar biasa, salah satunya yaitu bisa menjadi guru sekaligus mengembangkan kemampuan menulisnya agar memberikan manfaat yang lebih luas untuk orang lain dengan mulai menulis untuk koran selama berpuluh-puluh tahun, lalu akhirnya bisa menjadi penulis buku yang karyanya salah satunya adalah buku luar biasa ini. Kisah ini sangat menginpirasi saya tentunya, saya jadi ingin seperti penulis, walau tulisan saya masih dalam lingkup blog pribadi ini, tapi saya tetap berharap tulisan saya yang receh ini bisa membawa kebermanfaatan bagi orang lain yang kebetulan menemukan tulisan ini di internet.

Pada bab ini penulis juga memberikan saya--sebagai pembaca semacam motivasi agar tidak menjadi guru yang "itu-itu" saja, kita harus menjadi guru yang kreatif dan meminimalkan keluhan. Untuk konteks sekarang mungkin keluhan para guru banyak datang dari perubahan kurikulum yang "lagi-lagi" harus diganti, tetapi hai ... bagaimanapun kurikulumnya berubah, yang menjalankannya tetap adalah seorang guru, jadi stop mengeluh, ayo bergerak untuk pendidikan yang lebih baik, dan jadilah guru yang berbahagia.

"Ada satu hal yang tidak pernah diketahui oleh guru adalah sampai kapan pengaruhnya terhadap kehidupan murid akan berhenti. Salah satu jawabannya adalah seumur hidup" --St. Kartono--

Menghidupi Nilai, Mengasah Keterampilan Mendidik

Pembuka bab kedua ini adalah wejangan dari penulis kepada guru-guru hebat di Indonesia agar mencontoh pegawai bank yang menunjukkan keramahan dan kerelaan untuk menjelaskan kepada nasabah-nasabahnya, kenapa kita sebagai guru malah terkesan sangat dingin kepada anak didik. Maka untuk memasuki tahun ajaran baru, ada dua modal penting bagi guru menurut penulis yaitu senyum dan kerelaan hati untuk menerangkan pelajaran, untuk siapa pun dan seperti apapun murid yang dihadapinya.

Ada satu kisah yang diceritakan penulis dalam bab ini yang membuat saya terhentak sampai harus mencari kisah tersebut di google search--kisah seorang mahasiswa di Amerika Serikat yang melakukan penembakan di kampusnya Virginia Tech tahun 2007 silam. Penulis dalam bab ini mengatakan bahwa sebenarnya bencana ini bisa dicegah sedini mungkin jika dosen-dosen--dalam hal ini para guru bisa aware dan mengenal baik setiap siswanya sedini mungkin. Tapi yang terjadi realita sekarang ini bahwa kebanyakan guru dan dosen tidak begitu mengenal baik semua siswanya, bahkan terkadang saat pemberian nilai hanya modal tebak-tebakan. Untuk hal yang satu itu saya pernah kecewa pada salah satu guru saya karena memberikan saya nilai rapor yang tidak sesuai dengan hasil kerja keras saya, hehehe.

Penulis juga menceritakan bahwa selama lebih dari 20 tahun pengalaman mengajar, dia sering kali meminta pendapat siswa tentang guru-guru yang telah mengajar mereka. Dan satu hal yang selalu sama yaitu akan ada guru yang di ingat sebagai guru killer lagi membosankan, dan akan ada guru yang selalu hangat lagi ramah. Maka tugas kita sebagai guru adalah bagaimana mengubah atau lebih tepatnya memaksa diri kita menjadi sosok guru yang lebih baik dan memberikan kesan baik kepada anak-anak didik kita.

Satu hal lagi yang menjadi point penting dalam bab ini adalah sering kali seorang guru "hanya mau terus berbicara" dan "didengarkan oleh murid" tanpa mau membuka telinga untuk "mendengarkan anak-anak murid kita". Padahal mendengarkan pertanyaan murid, mendengarkan keluhan siswa dan mendengarkan kegundahan hati siswa yang tak terungkapkan akan menjadi modal penting murid dalam memahami pelajaran.
"Para siswa tidak mengingat yang diajarkan oleh gurunya, mereka mengingat apa yang dilakukan oleh gurunya"
--St. Kartono--

Perjumpaan dengan Murid

Bab terakhir ini mengajak kita berefleksi tentang kejujuran yang selama ini coba kita ajarkan kepada murid, tapi terkadang sang guru sendiri yang menodainya. Sebagai contoh yang dijabarkan penulis adalah kisah bagaimana pada zaman Ujian Nasional atau UN, beberapa sekolah malah mengajarkan ketidakjujuran kepada anak-anak muridnya, demi prestasi bahwa sekolah tersebut mampu menghasilkan murid dengan nilai UN yang memuaskan--dan ini real terjadi di beberapa sekolah saat itu, bahkan di sekolah tempat saya belajar.

Juga bagimana kita sebagai guru mampu memaksa diri kita agar menjadi pribadi yang jujur, senantisa mengingat kebaikan orang lain dan senantiasa bersyukur serta memiliki semangat untuk terus bekerja sama agar kelak hal ini mampu terbiaskan kepada anak-anak didi kita, dan kita bisa menghasilkan anak-anak yang terbiasa mengucapkan "terima kasih" dan selalu senang dalam bekerja sama. 

Ada satu kisah dalam bab ini yang begitu membuat saya tersentuh adalah bagaimana anak-anak di pedalaman Nabire, Papua, harus berjuang untuk terus belajar di tengah listrik yang tidak memdai. Mereka adalah anak-anak yang berjalan kaki pergi dan pulang sekolah. Biasanya mereka baru sampai di rumah saat sore hari, lalu istirahat sebentar di sore hari, mereka ingin belajar di malam hari, tetapi apa daya listrik di daerah tersebut sering mengalami pemadaman bergilir, sungguh miris sekali.

Lalu di lain pihak ada beberapa guru yang bertanya kepada penulis tentang cara mengatasi kemacetan dalam menulis, tetapi sang guru yang bertanya tidak mau membaca alias punya beribu alasan jika disuruh untuk membaca, padahal dengan membaca banyak hal berati kita juga dapat menuliskan banyak hal, karena membaca dan menulis adalah satu bagian yang utuh--tidak dapat terpisahkan.

"Membaca adalah cara utama menemukan ide dan menimba berbagai inspirasi penting"
--St. Kartono--
Fitrah Alimuddin
Seorang Istri, Ibu dan Pendidik yang akan senantiasa belajar.

Related Posts

2 comments

  1. Anonymous12/9/23 09:04

    terima kasih untuk resensi buku ini, Bu ..selamat mendidik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Bu.. Selamat mendidik untuk semua guru 💕

      Delete

Post a Comment