Ingin Jadi Guru yang Bagaimanakah Saya?

Bismillahirrahmanirrahim


Ingin Jadi Guru yang Bagaimanakah Saya?

Beberapa hari ini saya sedang membaca sebuah buku yang sangat menginspirasi karya Bapak ST. Kartono yang berjudul "Menjadi Guru Untuk Muridku", bukunya belum habis saya baca, tapi Masyaa Allah buku ini begitu membekas dalam benak saya, dan membuat saya merenungkan hakikat saya menjadi guru. Membuat saya berpikir tentang "Ingin jadi guru seperti apa saya sebenarnya?". Tapi kali ini saya tidak akan membahas isi buku tersebut, Insyaa Allah bukunya akan saya review di sini jika saya sudah selesai membaca bukunya sampai habis.

Ingin Jadi Guru yang Bagaimanakah Saya?

Pertanyaan itu muncul begitu saja, "Kenapa saya ingin sekali menjadi guru?" Jika ada yang tahu secara panjang perjalanan karir saya, mungkin mereka akan sedikit meremahkan kemampuan saya saat ini. Lima tahun berkutat dengan pekerjaan yang berbeda jauh dari profesi guru tak lantas membuyarkan semangat saya untuk terus mengejar cita-cita saya menjadi seorang guru.

Tiga tahun yang lalu, rupanya Allah menjawab semua doa-doa saya dan mengizinkan saya untuk berdiri di depan kelas, dihadapan anak-anak dan menjadi seseorang yang mereka panggil "bu guru". Lalu pertanyaan besarnya "ingin jadi guru yang bagaimanakah saya?"

Kenangan Tentang Sosok Guru di Mata Saya

Pertama kali saya mengenal sosok guru adalah saat saya masuk TK di usia 5 tahun--25 tahun yang lalu, saya bahkan masih hafal nama dan sosok bu guru pertama saya itu, namanya Ibu Mutmainna, sosoknya berjilbab dengan badan yang sedikit berisi, Masyaa Allah, semoga beliau senantiasa dalam lindungan Allah dan diberikan kesehatan, Aamiin.

Lalu guru-guru di SD saya juga masih sangat jelas di ingatan, mulai dari guru kelas 1 sampai dengan guru kelas 6, qadarallah guru kelas 3 saya Ibu Deapati sudah berpulang beberapa tahun yang lalu, semoga Allah melapangkan kubur beliau, Aamiin

Sosok guru saya di masa SD (Sekolah Dasar) adalah guru-guru yang luar biasa, beliau adalah orang-orang yang sangat berjasa dalam hidup saya, beliaulah yang membangkitkan semangat belajar saya, tidak memandang anak siapa yang mereka ajar. Bahkan masih teringat jelas, saat acara perpisahan sekolah, Ibu Kepala Sekolah malah menyebutkan saya sebagai anak yang tidak pantang menyerah dalam belajar, walaupun saya hanyalah anak seorang tukang becak--saat itu bapak hanya berprofesi sebagai tukang becak, saat itu saya merasa sangat terharu dan sangat dihargai, tidak diremehkan walaupun saya bukan anak orang yang berpunya.

Saat SMP sayangnya saya tidak punya banyak kenangan tentang guru-gurunya--saya merasa sangat bersedih karena hal ini. Mungkin karena gurunya yang sangat banyak--mengingat ada banyak mata pelajaran saat SMP dan masing-masing gurunya berbeda. Bahkan tiap semesterpun berbeda. Jangankan gurunya, teman semasa SMP saya juga tidak banyak saya mengingatnya--saat SMP kami dirolling (pe-rolling kelas) dilaksanakan setiap semester, jadi tiap semester kami pasti berganti teman, bayangkan kami berganti teman selama 6 kali di 3 tahun itu. Sedih juga mengingat masa SMP ini yang sama sekali tidak terekam dalam memori saya, yang terekam cuma tentang kedisiplinan sekolah yang sangat luar biasa, dan bagaimana sekolah tersebut menempa saya jadi seseorang yang akhirnya malu untuk datang terlambat.

Di masa SMK, ada satu hal yang saya syukuri adalah kami tidak pernah dirolling sehingga kekeluargaan kami di dalam kelas sangat kental, dan satu hal lagi wali kelas kami tidak pernah berganti--1 wali kelas akan mendampingi kami sejak kelas 1 sampai dengan kelas 3. Guru-guru di masa ini masih terekam jelas dalam ingatan, bahkan sampai sekarang masih terekam bagaimana mereka di dalam kelas, ada yang selalu membawa kelas dalam keceriaan, ada yang tegas dan ada satu guru yang memaksa kami menjadi siswa yang kreatif--dari beliaulah saya akhirnya bisa menguasai komputer dan MS. Office terutama power point karena di mata pelajarannya hampir setiap pekan kami harus membuat bahan presentasi per individu, Masyaa Allah.

Dosen-dosen di perguruan tinggi tempat saya kuliah juga Masyaa Allah, ada satu dosen perempuan yang mengajar Mata Kuliah Bahasa Inggris saat itu yang sangat membekas di ingatan saya, bagaimana beliau mengaktifkan kelas yang beliau ajar, dari beliau saya akhirnya tahu pengaplikasian metode-metode mengajar yang interaktif, alhamdulillah beliau menjadi dosen pembimbing saya saat mengerjakan skripsi di tahun 2018 silam, dan saat ini beliau juga menjadi pengajar bagi mahasiswa PPG.

Kembali ke Pertanyaan Awal, "Saya Ingin Menjadi Guru yang Bagaimana?"

Guru yang Menilai Siswa Dengan Baik

Satu hal yang saya tekankan saat saya akhirnya mendapat predikat "guru" adalah saya ingin menilai siswa dengan baik. Itulah sebabnya tidak ada nilai yang saya lewatkan--bahkan nilai catatan pun akan saya masukkan dalam daftar nilai. Tidak adil rasanya kalau anak-anak sudah berusaha keras mencatat atau mengerjakan tugas tapi gurunya tidak menilai hasil usaha mereka. Dan saat pengisian rapor sang guru malah sibuk "mengarang nilai" sebab saat pembelajaran berlangsung sang guru tidak mencatat dengan baik setiap nilai yang diperoleh siswa.

Guru yang Tidak Hanya Memperhatikan Nilai Kognitif tapi Juga Mempertimbangkan Sikap Siswa di dalam Kelas

Sejujurnya saya bukan guru yang sempurna, saya masih akan terus belajar menjadi guru yang baik. Saya memang mencatat semua nilai siswa tanpa terkecuali, dan memasukkannya ke dalam daftar nilai, tapi dalam raport siswa tidak dicantumkan dengan jelas masalah penilaian afektif ini--hanya di tuliskan secara singkat di bagian atas raport yang menurut saya pribadi terkesan tidak penting.

Maka dari itu saya membuat satu penilaian sendiri khusus di dalam kelas dengan membuat penilaian sistem bintang, setiap anak yang berbuat baik di hari itu akan mendapatkan satu bintang dari saya, dan sebaliknya jika ada anak yang berprilaku kurang baik maka bintangnya akan saya kurangi, diakhir semester siswa dengan bintang terbanyak akan mendapatkan hadiah khusus dari saya.

Saya berharap cari ini bisa menanamkan prilaku baik bagi anak-anak, dan bahwa ibu guru tidak hanya menilai dari segi "nilai mata pelajaran" yang tinggi, tapi juga menilai sikap kita selama pembelajaran. Satu hal yang selalu saya tekankan bagi mereka adalah "Kalian adalah seorang siswa, maka salayaknya seorang siswa kalian harus bersikap seperti siswa, berpakaian seperti siswa dan berucap seperti siswa". Belakangan ini anak-anak seakan dicemari dengan "perkataan kotor" baik dari lingkungan mereka maupun dari tontonan yang mereka lihat.

Guru yang Bisa Memposisikan Diri

Untuk yang satu ini saya masih harus banyak belajar, sebab saya terkadang masih susah memposisikan diri dengan baik. Tapi satu harapan saya, yaitu saya bisa memposisikan diri dengan baik di depan anak-anak, dalam artian bisa bersikap sebagai teman--jika anak-anak membutuhkan saya sebagai seorang teman yang bisa lucu, bisa diajak bercanda, jadi guru yang lembut tapi di satu sisi juga bisa tegas saat anak-anak mulai terlihat keluar batas.

Guru yang Tidak Hanya Pandai Berbicara Tetapi Juga Pandai Mendengar

Ada sebagaian guru yang begitu pandai dalam berbicara, di dalam kelas dia adalah pembicara yang aktif dengan menerapkan metode cerama selama proses pembelajaran tetapi sayangnya guru tersebut tidak membiarkan anak-anak berpendapat dengan pendapatnya sendiri, bahkan dia akan sangat marah jika sang anak didik tidak sependapat dengan perkatannya. Ada guru yang benci melihat suasana kelas yang ribut, dan mengingkan siswa-siswinya hanya bisa diam dan mendengar tanpa boleh berbicara sepatah kata pun. Saya harap saya bukan salah satu dari guru tersebut.

Walaupun saya akan sedikit bersikap tegas jika mendapati anak murid saya berbicara ngelantur di dalam kelas yang tidak berkaitan dengan pelajaran yang saya ajarkan, tapi Insyaa Allah saya mencoba untuk menjadi guru yang siap mendengarkan setiap pendapat anak-anak, bahkan yang terkesan remeh bagi orang dewasa.

Harapan Saya Untuk Diri Saya Sendiri

Saya berharap bahwa teor-teori harapan yang saya tuliskan diatas bukan sekedar tulisan tanpa pembuktian. Tapi saya benar-benar berharap bisa menjadi guru yang seperti telah saya tuliskan. Saya ingat saat saya sekolah, saya akan sangat kecewa saat mendapati nilai rapor saya tidak sesuai dengan kerja keras saya selama semester itu--mungkin karena bapak/ibu guru saat memberi nilai memakai cara "mengarang nilai", sebab nilai rapor saya tidak sesaui dengan nilai harian yang saya dapatkan.

Saya adalah tipe murid yang akan selalu menyimpan buku atau lembar ujian saya dengan baik, bahkan saya selalu punya binder khusus untuk menyimpan nilai ulangan harian saya, tetapi alangkah kagetnya saya saat mendapati bahwa nilai rapor saya berbeda jauh dari nilai yang selama ini saya dapatkan. Saat itu saya sangat kecewa pada guru yang mengajar saya, dan sejak saat itu pula saya bertekad bahwa saya tidak ingin menjadi guru seperti itu kalau kelak saya telah menjadi guru.

Orang bilang pengalaman adalah guru yang terbaik, maka mungkin pengalaman itulah yang membentuk saya jadi orang yang seperti ini sekarang ini. Sekali lagi saya masih terus harus belajar, sebab saya masih jauh dari kata sempurna, saya masih sering khilaf dan salah. Tapi satu hal yang pasti bahwa setiap murid adalah manusia seperti kita, maka manusiakanlah mereka sebagaimana kita juga ingin dimanusiakan.

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Komentar kalian sangat berarti untuk saya dan blog ini 💕