Harapan Serta Upaya Untuk Terus Memantaskan Diri Ke Tanah Suci

Bismillahirrahmanirrahim

Harapan Serta Upaya Untuk Terus Memantaskan Diri Ke Tanah Suci

Musim haji sudah lewat, satu per satu jama'ah haji sudah kembali ke tanah air masing-masing. Saya yakin setiap muslim/muslimah baik yang sudah pernah menginjakkan kaki ke tanah suci ataupun yang belum pernah ke sana, sama-sama memiliki kerinduan yang besar untuk melihat tanah suci dan bertawaf di Ka'bah lalu bermunajat di padang Arafah.

Sama seperti muslim/muslimah lainnya, salah satu mimpi terbesar saya adalah ingin menginjakkan kaki ke Tanah Suci dan melaksanakan ibadah Umroh maupun melaksanakan salah satu rukun islam yaitu Ibadah Haji. Ibadah haji ini tentunya butuh pengorbanan yang besar, baik berupa kesiapan batin, fisik maupun berupa dana yang juga sama besarnya, maka tak heran jika ibadah ini hanya di tekankan bagi mereka yang memang mampu dalam segala hal.

Tapi walau begitu, Allah-lah yang menentukan setiap hambaNya yang mana yang akan Ia panggil untuk dapat menunaikan ibadah haji ataupun umroh ke TanahNya yang Suci. Bisa jadi orang yang memiliki banyak uang tetapi belum terpanggil karena memang hatinya belum sepenuhnya menginginkan untuk kesana dan bisa jadi orang yang sama sekali tidak memiliki uang malah terpanggil ke Tanah Suci karena kesungguhan hatinya yang besar untuk ke Tanah Suci.


Doa dan Harapan Ke Tanah Suci

Sudah sejak lama doa dan harapan terbesar saya berfokus pada satu hal ini. Jangan tanyakan betapa rasa haru itu datang ketika melihat tanah haram via media sosial. Setiap musim haji tiba doa bertubi-tubi dilantunkan agar kelak saya bisa menjadi salah satu hamba-Nya yang Allah panggil untuk menginjakkan kaki ke tanah haram. Saya belum memiliki tabungan yang cukup agar bisa mendaftarkan diri untuk haji maupun umroh, tetapi saya yakin Allah akan memberikan jalan apabila Ia telah memutuskan untuk memanggil seorang hamba untuk bisa ke Tanah Suci.

Kisah Menakjubkan Tentang Mereka yang Dipanggil Allah Ke Tanah Suci

Seorang Supir yang Akhirnya Melaksanakan Ibadah Umroh

Kisah pertama datang dari seorang supir yang sangat ingin melaksanakan ibadah umroh, tetapi qadarallah hartanya belum cukup, tetapi dengan tekad yang kuat dia memutuskan untuk membuat paspor sebagai bentuk atas kesungguhan hatinya. Masyaa Allah, tak berapa lama kemudian Allah menunjukkan pertolongannya dengan munculnya seorang dermawan yang ingin membiayai beliau untuk melaksanakan ibadah umroh ke tanah suci.

Menukar Rumah Untuk Berangkat Ke Rumah Allah

Kisah berikutnya datang dari seorang kakek yang hidup sebatang kara, istrinya telah meninggal dunia dan beliau tidak dikaruniai seorang anak. Beliau memiliki impian untuk berangkat ke tanah suci, lalu dengan berani beliau menjual rumah yang merupakan harta satu-satunya yang ia miliki untuk melaksanakan impian terbesarnya yaitu melaksanakan ibadah haji. Beliau merelakan hartanya demi menyempurnakan rukun islam. Kakek itu berharap hajinya adalah haji yang mabrur dan Allah dapat mengganti rumahnya di dunia dengan istana di surgaNya kelak, Masyaa Allah.

Pesan Mendalam Dari Kedua Kisah Tersebut

Dari dua kisah diatas kita dapat menjadikannya pelajaran bahwa melaksanakan ibadah haji maupun umroh bukan sekedar untuk orang yang mempunyai uang banyak saja--bukan untuk orang kaya saja, tetapi ibadah tersebut untuk semua hamba yang memang pantas untuk menjadi tamu Allah di tanahNya yang suci.

Dari dua kisah tersebut kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa untuk bisa pergi berjahi maupun umroh kita bisa loh tanpa mengeluarkan dana sekalipun--seperti kisah pak supir tadi. Ada orang yang mempunyai banyak harta tapi hatinya belum terpanggil untuk menunaikan ibadah mulia tersebut. Haji dan umroh adalah ibadah yang sangat istimewa yang mengharuskan kita untuk berikhtiar lebih dan menebalkan tawakkal. Satu hal yang paling penting dari semua itu adalah meluruskan niat yang sebesar-besarnya hanya untuk Allah--bukan untuk hal lain.

Sudahkan Kita Memantaskan Diri Untuk Ke Tanah Suci?

Pertanyaan besar ini khususnya untuk diri saya sendiri. Sudahkan saya memantaskan diri untuk menjadi tamu Allah? Jangan-jangan impian dan harapan itu hanya sekedar angan-angan tanpa persiapan sama sekali. Satu hal yang perlu kita ingat adalah Allah akan memudahkan hambaNya jika memang hamba tersebut meluruskan niat dan membulatkan tekad untuk bisa beribadah ke tanah suci.

Semoga Allah memudahkan kita untuk memenuhi panggilanNya dan kelak Allah akan memanggil kita ke TanahNya yang suci di waktu yang tepat dan terbaik menuruNya. Hingga kelak kita akan mengeluarkan air mata penuh haru ketika melaksanakan tawaf berkeliling Ka'bah atau ketika ber Sa'i antara bukit Shafa dan Marwah dan bisa bermunajat dengan sungguh-sunggu ketika berada di padang Arafah. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Komentar kalian sangat berarti untuk saya dan blog ini 💕